Home
Dinding Kelas Jebol Tertimpa Talut
Sample ImageHujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Kaliwiro Wonosobo, menyebabkan talut SD 2 Tanjunganom setinggi lima meter sepanjang belasan meter, ambrol. Bencana itu juga mengakibatkan dinding tembok ruang kelas II yang berada dibawah talut, jebol.
Kejadian pada petang hari tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Karena saat itu tidak ada kegiatan pembelajaran. Kerugian materi ditaksir cukup besar.
Kepala SD 2 Tanjunganom Kaliwiro, Sri Mintarsih SPd yang ditemui Suara Merdeka, kemarin, mengatakan peristiwa tersebut sudah dilaporkan kepada instansinya. Diakui, tembok talut yang ambrol, konstruksinya tanpa besi slup/cor.
Menurut dia, gedung yang digunakan untuk ruang kelas I dan II, merupakan bangunan Inpres tahun 1983. Gedung yang relatif tua itu pun sebagian dindingnya sudah retak-retak. Atap yang relatif rendah tanpa plafon, sehingga siang hari cukup panas dan bila hujan menimbulkan suara bising.
Kini, dengan runtuhnya tembok ruang kelas II, kerangka atap bangunan menggantung. Sehingga ruang kelas tersebut membahayakan dan tak bisa digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Sri Mintarsih menyebut, agar kegiatan pembelajaran tetap berlangsung, maka siswa kelas II terpaksa dipindah ke kelas lain. Dalam hal ini siswa kelas II harus bergantian dengan siswa kelas I. Pada hal, kondisi ruang kelas I pun relatif sudah tua dan rusak.
SD 2 Tanjunganom menampung 121 murid. Terdiri atas kelas I sebanyak 17 anak; kelas II 20 murid; kelas III 16; kelas IV 21; kelas V 21 dan kelas VI 26 siswa.
Kepala UPTD Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah raga Kecamatan Kaliwiro, M Tafsir SPd secara terpisah menyebut sudah mengunjungi lokasi bencana di SD 2 Tanjunganom. Dia akui, gedung yang tertimpa talut tersebut sudah cukup tua dan kondisinya memprihatinkan.
M Tafsir juga mengatakan, meski secara umum fisik gedung sekolah sudah baik, tetapi sejumlah sekolah di wilayahnya, sekarang ini kondisinya memerlukan perhatian. Diantaranya sejumlah ruang kelas SDF Kemiriombo; SD 1 Kauman; SD Kaliguwo; SD 2 dan SD 3 Lamuk; SD 2 Pucungkerep; SD Cledok; SD 2 Winongsari; SD Lebak; SD 1 Tracap serta sebagian ruang kelas SD 2 Medono.
 
12 Sekolah Lulus 100 Persen, Enam SMP Nol Persen
Sample ImageDua belas sekolah di Wonosobo, terdiri atas dua SMP negeri; dua SMP swasta; dua SMPLB dan enam MTs swasta, berhasil meluluskan siswanya 100 persen dalam Ujian Nasional (UN) utama SMP/MTs/SMPLB tahun ajaran 2009/2010. Sedangkan enam SMP, yaitu SMP satu atap dan lima SMP terbuka, seluruh siswanya harus mengulang atau angka kelulusannya nol persen.
SMP negeri yang secara gemilang 100 persen meluluskan  muridnya adalah SMP 1 Wonosobo dan SMP 1 Kertek. Untuk swasta meliputi SMP Kristen Selomerto dan SMP Muhammadiyah Kaliwiro. Selain itu juga SMPLB Karya Bakti dan SMPLB Dena Upakara Wonosobo.
MTs swasta yang juga sukses terdiri atas MTs Maarif Sukoharjo; MTs Maarif Selomerto; MTs Maarif Kejajar; MTs Muhammadiyah Butuh Kalikajar; MTs Maarif Kepil dan MTs Ar Risalah Kepil.
Adapun SMP yang 100 persen siswanya harus mengulang atau kelulusannya nol persen adalah SMP 8 Satu atap Wadaslintang; SMP Terbuka (SMPT) Garung; SMPT Watumalang; SMPT Wonosobo; SMPT Kepil dan SMPT 3 Kalikajar.
Kabid SMP Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah raga Wonosobo, Drs Agus Haryanto MM yang ditemui Dewan Pendidikan, Jumat kemarin mengatakan, UN utama SMP/MTs diikuti 10.291 siswa. Lulus 8.440 anak (82,01 persen). Yang harus mengulang 1.851 anak atau 17,99 persen.
Untuk SMP negeri, diikuti 6.772 siswa. Lulus 5.683 murid (83,92 persen), mengulang 1.089 (16,08 persen). UN SMPT diikuti 245 anak. Lulus 23 siswa (9,39 persen), mengulang 222 (90,61 persen).
MTs negeri diikuti 347 murid. Lulus 249 (71,76 persen) dan yang mengulang 98 pelajar (28,24 persen). MTs swasta dengan 1.429 siswa, lulus 1.262 anak (88,31 persen) dan mengulang 167 siswa (11,69 persen). Sedangkan SMPLB diikuti 15 siswa, semuanya lulus
Selengkapnya...
 
Dewan Pendidikan Pantau UASBN SD
Sample ImageDewan Pendidikan Wonosobo mengerahkan seluruh anggotanya untuk melakukan pemantauan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) SD, di 15 kecamatan sekabupaten. Pemantauan berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa (4/5) sampai Kamis 6/5).
Ketua Dewan Pendidikan Wonosobo, H Slamet Raharjo Budi mengatakan, tiap anggota diharapkan bisa memantau 8-10 SD di wilayah perkotaan, kecamatan maupun pinggiran dan pelosok secara acak.
Hal itu dimaksudkan sebagai masukan untuk bahan evaluasi maupun mengetahui kondisi sebenarnya di tiap SD/MI. Materi yang dipantau meliputi jumlah siswa, standar kelulusan sekolah, kondisi dan permasalahan sekolah, srana prasarana, tenaga kependidikan dan sebagainya.    
Melalui pemantauan hari pertama UASBN SD, diperoleh gambaran adanya daerah-daerah pinggiran atau pelosok yang mematok angka kelulusan hanya 2,0 atau pun 2,5. Namun demikian ada juga yang menentukan angka kelulusan 4,5-5,0.
Kepala UPTD Dinas Pemuda Olah raga Kecamatan Kalibawang, Subarjo SPd yang ditemui Suara Merdeka, kemarin, mengatakan standar kelulusan sekolah di wilayahnya minimal 4,0. Penentuan standar kelulusan sebesar itu dimaksudkan agar para siswa maupun guru terpacu dan termotivasi untuk meningkatkan kualitasnya.
Sekretaris Dewan Pendidikan Wonosobo, Eko Premono dalam pentauannya di wilayah Kecamatan Kalibeber mengatakan untuk untuk SD 1 Kalibeber mematok 4,25 untuk standar kelulusan minimal UASBN di sekolah tersebut yang diikuti oleh 49 siswa sedangkan untuk SD 2 Kalibeber mematok angka 5,50 untuk standar kelulusan minimal UASBN yang diikuti oleh 32 siswa. Dari hasil pemantauan di dua sekolah di wilayah Kalibeber tersebut diperoleh informasi dari masing-masing Kepala Sekolah bahwa lulusan dari sekolahnya 100% melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Bendahara Dewan Pendidikan, H Ahmad Hafidz SAg secara terpisah merasa prihatin, masih banyak sekolah menentukan standar kelulusan yang rendah. Dia menilai, sekolah jangan sekedar bisa meluluskan siswa saja. Tetapi disisi lain juga harus memperhatikan kualitas anak didiknya.
UASBN SD/MI/SDLB di Wonosobo diikuti 14.055 siswa. Terdiri atas SD negeri dan swasta sebanyak 12.138 anak; MI negeri/swasta 1.901 murid dan SDLB 16 peserta.
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 5 - 8 dari 98
Polling
Masih perlukah pelaksanaan Ujian NAsional untuk sekolah menengah?
 
Who's Online
Saat ini ada 3 tamu online
 
Template designed by  L38An0n