|
Siswa Kelas Jauh Bersekolah di TPQ |
 PERBEDAAN status acapkali menimbulkan kesenjangan. Termasuk diantaranya di bidang pendidikan. Khususnya antara sekolah induk dengan kelas jauh. Walau seharusnya hal itu tak boleh terjadi, namun kenyataan tetap menunjukan adanya perbedaan. Mengenai sarana prasarana, pada umumnya kondisi di sekolah induk lebih baik dan memadahi dibandingkan dengan yang ada di kelas jauh. Tenaga pengajar pun lebih lengkap di sekolah induk. Demikian halnya dengan perlengkapan buku maupun alat peraga. Pengurus Dewan Pendidikan Wonosobo yang dipimpin Wakil ketua Ir Sarwanto Priadi, ketika melakukan monitoring ke MTS Takhasus kelas jauh, di Kelurahan Jogoyitnan Wonosobo dan MTS kelas jauh di Desa Kalierang Kecamatan Selomerto, merasa prihatin dengan sarana prasarana pembelajaran di kelas jauh. Sarwanto berharap agar para siswa yang menimba ilmu di kelas jauh tetap memperoleh layanan dasar pendidikan secara memadahi. Layanan dasar pendidikan tersebut akan berimbas pada kualitas output siswa/lulusan. Di Kelurahan Jogoyitnan Wonosobo, saat ini tercatat sebanyak 28 anak menimba ilmu di MTs Takhasus kelas jauh. Mereka terdiri atas 17 siswa kelas VII dan 11 murid kelas VIII. Pembelajaran bagi murid kelas VII menempati TPQ. Adapun siswa kelas VIII ditempatkan terpisah, di pesantren Toliqul Irsyad Desa Gondang. Guru Ali Parmuji dan M Khayatun yang ditemui Suara Merdeka mengaku, karena sekarang ini masih menumpang di TPQ dan pesantren yang terpisah, maka siswa kelas jauh tidak diwajibkan mengikuti atau menyelenggarakan upacara bendera. Meski menimba ilmu di kelas jauh, tandas Ali Parmuji, justru kemampuan akademik murid kelas VIII, nilai hasil evaluasi belajar mampu mengungguli rekannya di sekolah induk. Hal itu dimungkinkan karena pembelajaran cukup efektif, karena jumlah siswa yang sedikit. Disinggung tentang jumlah guru yang mengampu kelas jauh, disebutkan mencapai 12 orang. Diantaranya tiga guru berstatus PNS bantuan Depag. Untuk materi atau mata pelajaran pokok, ditangani guru dari sekolah induk. Soal biaya operasional pendidikan, ditopang oleh BOS serta infaq sebesar Rp 5.000/bulan/siswa. Pengelola kelas jauh MTs Takhasus di Desa Kalierang Selomerto, Maksum SAg Alh, secara terpisah mengatakan bahwa program tersebut dimulai sejak tahun ajaran 2008/2009. Saat ini menampung 23 siswa, terdiri delapan anak kelas VIII dan 15 murid kelas VII. Mereka berasal dari keluarga kurang mampu, beberapa diantaranya adalah anak yatim. Tercatat 80 persen siswa diasramakan di pondok/pesantren Annur Kalierang. Mereka berasal dari berbagai desa di Wonosobo dan bahkan dari Banjarnegara dan Pekalongan. Para siswa tidak dipungut sumbangan apapun. Bahkan sebagian dari mereka pun dibebaskan dari biaya akomodasi serta makan. Alumni Unsiq Jateng ini menyebut, pembelajaran yang diberikan menyesuaikan kurikulum dengan sekolah induk. Bahkan keunggulan yang diharapkan adalah masalah akhlaqul karimah. Pihaknya membekali para siswa dengan keimanan yang kuat. Maksum mengaku buku referensi yang dibutuhkan sangat terbatas. Untuk itu, ia tak segan meminjam buku-buku pokok ke perpustakaan sekolah induk. Hal itu dimaksudkan agar para murid tidak tertinggal dari lainnya. Untuk kegiatan ekstrakurikuler, siswa dikenalkan kaligrafi, pidato, qiroah, Pramuka dan lainnya.(Sudarman) |
|
|
Sekolah Lesehan di SMP Darul Falakh |
 MENDUNG tebal, sepanjang Rabu kemarin menyelimuti udara di atas Desa Maron Kecamatan Garung Wonosobo. Bahkan siang hari, hujan pun turun cukup deras. Selama musim hujan, hampir setiap waktu, kawasan yang berada pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan air laut tersebut selalu dingin. Meski cuaca dingin, sebanyak 48 siswa kelas IX SMP Darul Falakh, di Desa Maron -desa terdekat dengan Telaga Menjer Garung, seakan tak terpengaruh. Sebagaimana dengan hari-hari sebelumnya, mereka mengikuti kegiatan belajar mengajar, secara lesehan di ruang kelas. Para siswi duduk bersimpuh, sedangkan pelajar pria ada yang bersila. Mereka duduk lesehan di karpet biru. Untuk menulis, digunakan meja pendek yang biasa dipakai untuk mengaji. Adapun guru yang mengajar, terkadang berdiri, namun acapkali juga duduk bersimpuh menghadapi para siswa. Sejumlah siswa yang enggan disebut jati dirinya mengaku, pembelajaran dengan cara lesehan, terkadang menyebabkan perut mereka kembung dan masuk angin. Anak-anak pun disebutnya lebih sering ke kamar kecil untuk buang air. Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, Sobarun AMd yang ditemui, kemarin, menyebut meski mereka lesehan di kelas, tetapi kesehatannya tetap terjaga. Hal itu pun tidak berpengaruh pada aktifitas pembelajaran. Sobarun mengatakan, para siswa kelas IX terpaksa belajar sambil lesehan, karena mebelair berupa meja kursi masih kurang. Sedangkan mebelair untuk murid kelas VII dan VIII (empat ruang kelas) sudah mencukupi. Menurut dia, SMP Darul Falakh yang kini memasuki tahun ke empat, sudah berhasil meluluskan siswa pada tahun ajaran 2008/2009, sebanyak 19 anak. Adapun saat ini, sekolah dibawah naungan yayasan Darul Falakh tersebut menampung 168 murid. Mereka tersebar di kelas VII sebanyak 56 anak; kelas VIII 63 siswa dan kelas IX 48 murid. Siswa kelas VII dan VIII, masing-masing dua kelas. SMP Darul Falakh dilayani 20 orang guru, semuanya berstatus guru yayasan. Semula siswa yang menimba ilmu di sekolah ini dibebaskan dari seluruh biaya. Namun sejak tahun ajaran 2008/2009, para siswa dibebani infaq sebesar Rp 9.000/bulan. Walau demikian, infaq yang masuk, rata-rata hanya berkisar 75 persen. Untuk menopang operasional, sekolah ini memanfaatkan BOS yang diterima. Wakil kepala sekolah yang lain, Aris mengatakan, bagi siswa dari keluarga kurang mampu, pihaknya membebaskan biaya dan bahkan membantu seragam dan lainnya. Dengan dibukanya SMP Darul Falakh cukup membantu penuntasan Wajib belajar pendidikan dasar (Wajardikdas) sembilan tahun di daerah sekitar. Aris menyebut, kurikulum pesantren juga dimasukan dalam pembelajaran di SMP Darul Falakh, dengan perbandingan 40:60. Untuk kegiatan ekstra kurikuler sore hari, para siswa bisa mengikuti sejumlah cabang olah raga, seni, qiroah dan sebagainya. Wakil ketua Dewan Pendidikan Wonosobo Ir Sarwanto Priadi didampingi Bendahara H Ahmad Hafidz SAg yang mengunjungi sekolah tersebut menyarankan, siswa kelas IX seyogyanya tidak belajar secara lesehan. Dikhawatirkan hal itu akan berpengaruh pada hasil UN mendatang. Sarwanto menyebut, jika belum memiliki mebelair yang cukup, maka yang belajar lesehan adalah siswa kelas VIII atau dilakukan pergantian berkala. "Cuaca disini cukup dingin, jika mereka lesehan dalam jangka waktu lama, saya khawatir akan mengganggu kesehatan siswa. Sehingga hal itu bisa berpengaruh pada hasil akhir atau UN," tandas mantan anggota DPRD Wonosobo tersebut.(Sudarman) |
|
|
Kesejukan Sekolah di Alam Pedesaan |
  SEMILIR angin pegunungan yang segar, menjadikan suasana alam pedesaan semakin sejuk dan nyaman. Kondisi yang menyenangkan tersebut, setiap waktu ditemukan di lingkungan SMP 3 Selomerto Wonosobo, di Desa Adiwarno. Di bagian depan sekolah, terdapat hamparan persawahan nan hijau. Di depan gapura dan pagar satuan pendidikan tersebut, gemericik air irigasi yang bersih, memberikan kesan tersendiri. Di halaman sekolah, taman dengan aneka tanaman hias dan bunga, menambah keindahan. Lapangan sekolah di bagian dalam yang juga dimanfaatkan untuk upacara, selalu bersih dengan hamparan rumput hijau. Dilengkapi pohon peneduh di sekeliling lapangan, menambah keasrian kawasan tersebut. Dengan lahan relatif terbatas, berkisar 7.000 meter persegi, dimanfaatkan untuk 12 ruang kelas yang menampung 323 murid, kantor, masjid, ruang praktik dan lainnya. Seluruh areal dimanfaatkan secara optimal. Di bagian belakang sekolah, digunakan untuk kebun sayur, tanaman obat serta budi daya ikan air tawar. Selain itu juga dikembangkan ternak. Kepala SMP 3 Selomerto, H Herli Wiyatmo SPd yang ditemui Suara Merdeka, kemarin, mengatakan bahwa budi daya ikan, pertanian maupun ternak ditangani oleh para siswa, sebagai pengisi kegiatan ekstrakurikuler. Sebagian besar siswa adalah anak petani. Sehingga kegiatan ekstrakurikuler tersebut bukanlah hal baru bagi mereka. Hasil budi daya perikanan maupun pertanian, dimanfaatkan bersama-sama oleh penghuni sekolah, yaitu siswa dan guru. Melalui kegiatan itu, para siswa dilatih bisa mandiri dan memiliki keterampilan di bidang pertanian/perikanan/peternakan. Menurut dia, pihaknya juga senantiasa membiasakan untuk hidup bersih dan sehat. Hal itu selalu ditanamkan pada anak didik. Diharapkan kebiasaan hidup sehat tersebut berimbas kepada keluarga maupun masyarakat sekitar sekolah. Untuk menunjang pola hidup bersih dan sehat, di depan masing-masing ruang kelas tersedia kran-kran pipa air PDAM. Anak-anak dibiasakan untuk cuci tangan. Demikian hal yang sama juga diterapkan di kantin sekolah. Meski menu yang disajikan sederhana, tetapi dijamin kesehatannya. Lingkungan kantin pun terjaga kebersihannya. Tak ada sampah berserakan di lokasi kantin maupun sekolah. Meski sekolah berada di alam pedesaan yang sepi, namun dengan keindahan dan kesejukan, cukup mendukung pembelajaran bagi siswa. Untuk mengembangkan minat siswa di bidang kesenian, disediakan perlengkapan yang dibutuhkan. Meliputi kesenian tradisional maupun musik. Hal itu menambah gairah mereka. |
|
| | << Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>
| | Hasil 29 - 32 dari 98 |
|
|
Who's Online |
|
Saat ini ada 5 tamu online |
|