Home
Khitan Massal dan Donor Darah HUT Emas SMA 1
Sample ImageUntuk menyemarakan HUT emas atau hari jadi ke 50 tahun SMA 1 Wonosobo, dilaksanakan kegiatan sosial berupa khitan massal yang diikuti 15 anak dan donor darah terhadap 57 siswa, guru serta alumni. Bersamaan dengan itu juga digelar lomba tumpeng oleh masing-masing kelas. Malam harinya dilangsungkan tasyakuran sederhana serta hiburan musik.
Ketua forum alumni SMA 1, H Priyo Purwanto SSos MSi yang dihubungi Suara Merdeka, kemarin, mengatakan kegiatan aksi kemanusiaan tersebut dimaksudkan dilaksanakan secara terpadu antara forum alumni dengan pihak sekolah. Selain khitan massal dan donor darah, diagendakan pada Ramadan ini juga dilaksanakan kunjungan ke panti asuhan di Desa Kaliwuluh Kecamatan Kepil.
Dalam rangkaian HUT emas, lanjut pensiunan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Wonosobo, forum alumni juga menggelar reuni akbar yang diharapkan seluruh angkatan sekolah favorit tersebut. Melalui silaturahmi, 12 September 2010, ikatan emosional terhadap almamater semakin kuat.
Menurut H Priyo Purwanto (lulusan tahun 1974), berbagai lomba olah raga maupun seni dilaksanakan 20-26 September 2010. Kegiatan tersebut meliputi pekan olah raga, festival band, pentas seni serta jalan santai oleh seluruh keluarga besar dan alumni SMA 1. Diagendakan pula kegiatan lokakarya ilmiah maupun lomba mapel bagi pelajar.
 
Sejak Usia Dua Tahun Gemar Wayang
Sample ImageKECINTAANNYA terhadap wayang kulit, benar-benar melekat pada diri Galih Wahyu Sejati (sembilan tahun), asal Kampung Tosari Rejo Kelurahan Jaraksari Wonosobo.
Putra ke dua pasangan Sido Suroyo-Larasati, kini masih kelas III SD/MI Muhamadiyah Wonosobo, menyukai wayang kulit sejak usia dua tahun. Tiap kali melihat wayang, balita itu merengek minta dibelikan mainan wayang tersebut.
Menyadari hal itu, orang tua pun memahami dan berusaha memfasilitasinya. Pada awalnya, mereka menyediakan wayang dari bahan karton untuk sang anak. Saat itu, Galih sangat senang dan tak bosan bermain wayang. Sejalan dengan perkembangan usianya, ternyata Galih semakin mencintai dan menekuni wayang. Tak pelak, orang tuanya pun mengganti wayang karton dengan wayang kulit.
Paman dalang cilik, Harjono yang mendampingi Galih kepada Suara Merdeka, kemarin, mengatakan koleksi wayang kulit yang dimiliki kemenakannya berkisar 50 buah. Selain itu juga mempunyai gamelan, kendang serta alat musik gamelan gender. Bahkan VCD maupun CD pergelaran wayang kulit oleh dalang-dalang ternama di tanah air, dimilikinya. Hal itu juga untuk pembelajaran baginya.
Galih Wahyu Sejati mengaku bahwa dalang idolanya adalah Ki Anom Suroto. Sehingga dia merasa sangat bangga dan gembira ketika pada suatu saat bisa foto bersama dengan dalang yang disukanya.
Bocah kelas III ini mengaku, tampil kali pertama di Solo. Saat itu ia mengikuti festival dalang cilik di TBRS. Waktu itu ia hanya tampil selama 20 menit. Adapun ketika tampil menghibur acara perpisahan di SD Ngalian, awal Juli 2010, Galih manggung selama satu jam.
Meski masih belia, bakatnya di bidang seni wayang kulit, sangat menonjol. "Sabetan" yang dipertontonkan tiap kali pentas, cukup mengundang decak kagum pemirsanya. Atraksi yang ditampilkan cukup menggoda.
Menurut Harjono, bakat yang dimiliki Galih, diperkirakan berasal dari keluarga bocah itu. Dalam hal ini, sang ayah adalah seniman tari dan kakeknya adalah seorang dalang. Saat ini, Galih telah menguasai puluhan cerita pewayangan.
Disingung tentang pendidikan di sekolah, ternyata Galih mampu mengimbangi dengan baik. Pelajaran di sekolah bisa diserap dengan baik. Sehingga Galih pun selalu masuk dalam peringkat 10 besar di kelasnya. Bocah yang gemar makan mi dan tempe itu, tak mau sekolahnya terganggu gara-gara bermain wayang kulit.
 
Menyeberang Waduk untuk UN Ulangan
Sample ImagePERJUANGAN para siswa SMP yang tidak lulus ujian nasional (UN) utama lalu atau harus mengikuti UN ulangan -Senin (17.5) sampai Kamis (20/5), relatif lebih keras. Selain keinginan untuk bisa lulus, lokasi UN ulangan juga cukup jauh, karena dipusatkan di masing-masing sub rayon.
Misalnya, untuk Kecamatan Kaliwiro dan Wadaslintang Wonosobo, UN ulangan dilaksanakan di sub rayon SMP 1 Wadaslintang. Tercatat 21 dari 22 SMP/MTs di dua wilayah kecamatan tersebut, sebagian siswanya harus mengikuti ujian lagi.
UN ulangan mata pelajaran Bahasa Indonesia, diikuti 38 anak; Bahasa Inggris 131 siswa; Matematika 203 murid dan IPA 73 pelajar. Adapun di tingkat Kabupaten Wonosobo, siswa SMP/MTs yang harus mengulang mencapai 1.851 anak.
Sehubungan dengan lokasi ujian yang relatif jauh, maka sejumlah sekolah memfasilitasi anak didiknya yang mengulang, dengan menyediakan sarana transportasi angkutan darat maupun perahu penyeberangan, secara cuma-cuma. Hal itu dimaksudkan agar para siswanya bisa mengikuti UN ulangan, tepat waktu.
Fasilitas transportasi darat berupa mobil angkutan disediakan oleh SMP 2 Kaliwiro di Desa Lamuk yang berjarak 27 Km dari SMP 1 Wadaslintang. Di SMP2 Kaliwiro, siswa yang mengulang sebanyak 19 anak. Demikian halnya dengan siswa SMP Kaligowong Wadaslintang, pihak sekolah menyediakan mobil bagi mereka.
Adapun tujuh siswa SD-SMP Satu Atap Kumejing yang berada di seberang waduk Wadaslintang, memfasilitasi anak didiknya yang mengikuti UN ulangan, dengan mencarter perahu penyeberangan.
Guru IPA SD-SMP Satu Atap Kumejing, Budi Wahyono (30 tahun) yang ditemui Suara Merdeka, Rabu kemarin, mengungkapkan, untuk mengikuti UN ulangan di SMP 1 Wadaslintang, para siswa berkumpul di sekolah pukul 06.00 WIB. Perjalanan menyeberang waduk dengan perahu bermesin tempel, sekitar satu jam. Selanjutnya dari lokasi pangkalan perahu di Dusun Tritis ke SMP 1, anak-anak diboncengkan sepeda motor oleh guru.
Selengkapnya...
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 4 dari 98
Polling
Masih perlukah pelaksanaan Ujian NAsional untuk sekolah menengah?
 
Who's Online
 
Template designed by  L38An0n