
KECINTAANNYA terhadap wayang kulit, benar-benar melekat pada diri Galih Wahyu Sejati (sembilan tahun), asal Kampung Tosari Rejo Kelurahan Jaraksari Wonosobo.
Putra ke dua pasangan Sido Suroyo-Larasati, kini masih kelas III SD/MI Muhamadiyah Wonosobo, menyukai wayang kulit sejak usia dua tahun. Tiap kali melihat wayang, balita itu merengek minta dibelikan mainan wayang tersebut.
Menyadari hal itu, orang tua pun memahami dan berusaha memfasilitasinya. Pada awalnya, mereka menyediakan wayang dari bahan karton untuk sang anak. Saat itu, Galih sangat senang dan tak bosan bermain wayang. Sejalan dengan perkembangan usianya, ternyata Galih semakin mencintai dan menekuni wayang. Tak pelak, orang tuanya pun mengganti wayang karton dengan wayang kulit.
Paman dalang cilik, Harjono yang mendampingi Galih kepada Suara Merdeka, kemarin, mengatakan koleksi wayang kulit yang dimiliki kemenakannya berkisar 50 buah. Selain itu juga mempunyai gamelan, kendang serta alat musik gamelan gender. Bahkan VCD maupun CD pergelaran wayang kulit oleh dalang-dalang ternama di tanah air, dimilikinya. Hal itu juga untuk pembelajaran baginya.
Galih Wahyu Sejati mengaku bahwa dalang idolanya adalah Ki Anom Suroto. Sehingga dia merasa sangat bangga dan gembira ketika pada suatu saat bisa foto bersama dengan dalang yang disukanya.
Bocah kelas III ini mengaku, tampil kali pertama di Solo. Saat itu ia mengikuti festival dalang cilik di TBRS. Waktu itu ia hanya tampil selama 20 menit. Adapun ketika tampil menghibur acara perpisahan di SD Ngalian, awal Juli 2010, Galih manggung selama satu jam.
Meski masih belia, bakatnya di bidang seni wayang kulit, sangat menonjol. "Sabetan" yang dipertontonkan tiap kali pentas, cukup mengundang decak kagum pemirsanya. Atraksi yang ditampilkan cukup menggoda.
Menurut Harjono, bakat yang dimiliki Galih, diperkirakan berasal dari keluarga bocah itu. Dalam hal ini, sang ayah adalah seniman tari dan kakeknya adalah seorang dalang. Saat ini, Galih telah menguasai puluhan cerita pewayangan.
Disingung tentang pendidikan di sekolah, ternyata Galih mampu mengimbangi dengan baik. Pelajaran di sekolah bisa diserap dengan baik. Sehingga Galih pun selalu masuk dalam peringkat 10 besar di kelasnya. Bocah yang gemar makan mi dan tempe itu, tak mau sekolahnya terganggu gara-gara bermain wayang kulit.