Home
RSBI Tidak Boleh Bertindak Eksklusif
Active ImageBupati Wonosobo Drs H Kholiq Arif MSi menandaskan, meski berpredikat sebagai rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), tidak boleh bertindak secara eksklusif. RSBI SMA 1 masih menjadi bagian SMA di Wonosobo. Jangan terlena dengan predikat RSBI ataupun sekolah favorit. Namun tunjukan diri untuk menjadi yang terbaik.
Hal itu disampaikan Bupati ketika meresmikan launching program paket aplikasi sekolah (PAS) RSBI SMA 1 Wonosobo, Sabtu (27/2) lalu. PAS yang diluncurkan meliputi SMS gateway; learning management system dan fingerprint absent system.
Melalui program teknologi informasi dan komunikasi yang diluncurkan, orang tua siswa dan warga sekolah yang memanfaatkan SMS gateway dapat mengakses database sekolah. Menyangkut data guru, siswa, absensi, data akademik dan sebagainya.
Adapun dengan E-Learning akan mempermudah siswa mempelajari materi pembelajaran dan guru dalam mempersiapkan bahan ajar. Bahkan pada saatnya siswa bisa melaksanakan ulangan harian secara on line melalui jaringan intranet sekolah. Hasilnya pun dapat diketahui oleh siswa maupun orang tua siswa. Sedangkan sistem absensi melalui sidik jari akan meningkatkan kedisiplinan siswa maupun guru. Hal itu mempermudah pengawasan kehadiran mereka di sekolah.
H Kholiq Arif mengingatkan, walau sudah memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang merupakan kebutuhan, mereka tidakl boleh meninggalkan karakter dan kultur masyarakat.Hindari hedonisme.
Menurut dia, yang dilakukan RSBI SMA 1 diharap bisa menjadi inspiratif bagi sekolah lain di Wonosobo. Nantinya sekolah di daerah pegunungan itu supaya bisa mengikuti program tersebut. Pengembangan teknologi informasi yang aplikatif tidak bisa ditawar lagi. Hal itu sudah menjadi kebutuhan.
Kasubdit Pembinaan SMA Depdiknas, Syamsudin yang ditemui Suara Merdeka, usai peluncuran program PAS RSBI SMA 1, mengakui bahasa Inggris relatif menjadi kendala. Bagi RSBI, para lulusannya harus mahir berbahasa Inggris. Mereka juga harus mampu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Syamsudin menyebut, saat ini di Indonesia terdapat 320 RSBI. Pada tahun 2010, pihaknya mengusulkan 80-100 sekolah tersebut bisa meningkat menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI). Sekolah-sekolah tersebut harus berbasis TIK.
Peluncuran program PAS RSBI SMA 1 Wonosobo yang dihadiri ratusan orang tua siswa, berlangsung semarak. Orang tuya siswa diberi kesempatan memanfaatkan komputer yang disediakan untuk mengakses atau pun membuka website sekolah. Para siswa juga menyuguhkan hiburan tari, musik maupun teater.
 
Tangis Iringi Doa Bersama Guru Wiyata
Active ImageBanyak perempuan yang berprofesi sebagai guru wiyata bakti, meneteskan air mata dan menangis sedih, ketika mengikuti doa bersama, di alun-alun Kota Wonosobo, Rabu kemarin. Doa dipandu KH Nurhidayatullah dan K Safaat, diikuti hampir 1.000 guru wiyata bakti TK, SD dan PTT di daerah pegunungan tersebut.
Meski duduk di rerumputan menjelang tengah hari yang panas, mereka betah dan tak beranjak dari tempatnya, sampai dengan usainya acara gelar doa bersama. Untuk mengantisipasi panas maupun hujan, sebagian menggunakan payung.
Doa bersama yang diselenggarakan forum guru wiyata bakti yang memperoleh insentif bukan dari APBN/APBD, dimaksudkan untuk memperjuangkan nasib dan kesejahteraan mereka.
Para guru wiyata berharap, PP 48/2005 yang saat ini sedang digodok atau direvisi, pada saatnya nanti juga mengakomodasi mereka. Mereka berkeinginan, kelak mereka bisa diangkat atau direkrut menjadi CPNS.
Ketua PGRI Wonosobo, Drs H Suharna yang ditemui Suara Merdeka, di sela-sela doa bersama, kemarin, mengatakan pihaknya telah mengusulkan kepada pemerintah agar nasib guru wiyata maupun PTT, bisa diselesaikan dan mendapat perhatian.
Untuk para guru tidak tetap (GTT), lanjut H Suharna, diusulkan bisa memdapat insentif setara dengan UMR. Sedangkan untuk TK, PGRI juga mengusulkan adanya dana operasional yang bisa meringankan beban penyelenggaraan di TK.
Ketua Dewan Pendidikan Wonosobo, H Slamet Raharjo Budi secara terpisah juga sepakat bila kesejahteraan para guru wiyata maupun PTT, insentifnya ditingkatkan.
"Syukur insentif tersebut bisa mendekati atau sama dengan UMR. Namun demikian, hal itu sangat tergantung pada kemampuan keuangan daerah maupun pemerintah. Sedangkan bagi mereka yang tidak mungkin terekrut menjadi CPNS, diusulkan supaya bisa menerima bantuan Askes, jaminan hari tua maupun insentif sesuai UMR," papar H Slamet.
Berkait dengan jumlah guru wiyata bakti maupun PTT, dia menyebut perlunya data based yang valid. Hal itu sangat dibutuhkan bagi pemerintah maupun penentu kebijakan.
Keterangan lain menyebutkan, para guru wiyata bakti maupun PTT di Wonosobo yang memperoleh insentif bukan dari pemerintah (APBN/APBD), jumlahnya mencapai ribuan. Guru wiyata bakti di TK yang sudah masuk data based 157 orang dan yang belum tercatat 329 guru. Guru wiyata SD yang tercatat data based 804 dan yang belum 476 orang. Adapun PTT sebanyak 112 dan 19 orang.
 
Bolos Sekolah Karena tidak Garap PR
Menjelang pelaksanaan ujian nasional (UN) SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dilakukan razia terhadap siswa yang keluyuran pada jam sekolah. Razia rutin yang digelar Kantor Kesbangpollinmas Wonosobo, melibatkan petugas Kodim 0707, Polres, Satpol PP, Dinas Pendidikan Pemuda dan olah raga serta Dewan Pendidikan, kemarin.
Razia dilancarkan di tempat-tempat permainan play station (PS), warnet di komplek pertokoan maupun penyedia layanan PS perorangan di kota hujan tersebut.
Melalui razia mendadak sekitar pukul 09.00 WIB, tercatat 10 siswa SMP/MTs dan SMK, terjaring operasi gabungan. Selain itu juga etrdapat beberapa pelajar SD, diketahui sedang bermain PS di pusat perbelanjaan tersebut.
Siswa SD kota itu mengaku terpaksa bolos sekolah karena takut tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang ditugaskan guru. Untuk mengisi waktu atau menunggu pulang sekolah, anak-anak kecil itu pun iseng-iseng bermain PS. Mereka mengaku kapok dan tidak akan mengulang tindakannya. Anak-anak itu pun tidak dirazia dan diperbolehkan pulang.
Sedangkan 10 pelajar SMP/MTs maupun SMK yang terjaring, dikumpulkan di Kantor Kesbangpollinmas untuk mendapatkan pembinaan. Pelajar yang terjaring, lima diantaranya adalah siswi SMP di kecamatan.
Ketika dilakukan pendataan dan pengecekan, tiga pelajar berusaha mengelabuhi petugas. Mereka mengaku sebagai pelajar sekolah lain. Hal itu terungkap, sewaktu guru sekolah bersangkutan dihadirkan ke Kantor Kesbangpollinmas. Ternyata siswa tersebut tidak tercatat di sekolahnya.
Ketiga siswa (SMP, MTs dan SMK) menyebut, merasa malu menyebut identitas sekolahnya. Mereka tidak menduga, pihak sekolah yang diakunya, dihadirkan untuk melakukan pengecekan. Untuk itu mereka minta maaf.
Ketua bidang data dan informasi Dewan Pendidikan Wonosobo, Sudarman menyatakan prihatin terhadap sikap para pelajar yang bolos, hanya untuk bermain PS. Hal itu relatif mengecewakan orang tua maupun sekolah. Terlebih perilaku siswa yang berbohong dengan mempermalukan sekolah lain. Kenyataan yang menyedihkan itu tidak boleh terulang kembali.
Dengan kejadian ini, lanjut dia, semua pihak diingatkan untuk lebih memperhatikan perilaku dan kebiasaan putra-putrinya. Perhatian dilandasi kasih sayang dan disiplin, pada saatnya akan menjadikan anak-anak bisa memahami tanggungjawabnya. Anak-anak maupun pelajar merupakan calon pemimpin di masa datang, bukan pemimpi tanpa makna.
 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 4 dari 81
Polling
Masih perlukah pelaksanaan Ujian NAsional untuk sekolah menengah?
 
Who's Online
 
Template designed by  L38An0n